Selasa, April 10, 2007

Tatapn Penuh Cinta di Saat Tidur

(repost)

Pernahkah anda menatap orang-orang terdekat anda saat ia
sedang
tidur...?
Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat
sedang tidur.
Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan
paling jujur
dari seseorang.

Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan
gemerlap pun
bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia
sedang tidur.
Orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak
akan tampak
wajah bengisnya.

Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur.
Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini
semakin tua
dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi
kepalanya,
betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya.

Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk
kesejahteraan kita,
anak-anaknya. Orang inilah, rela melakukan apa saja asal
perut kita
kenyang dan pendidikan kita lancar. Sekarang, beralihlah.

Lihatlah ibu anda.
Hmm...kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus
membelai-belai
tubuh kita selagi bayi kini kasar karena tempaan hidup
yang keras.
Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita.
Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomeli
kita
semata-mata karena rasa kasih dan sayang, dan sayangnya,
itu sering kita
salah artikan.

Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu :
Ayah, Ibu, Suami, Istri, Kakak, Adik, Anak, Sahabat,
Semuanya...
Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya.
Rasakanlah energi cinta yang mengalir pelan-pelan saat
menatap wajah
lugu yang terlelap itu.

Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika
mengingat betapa
banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu
untuk
kebahagiaan anda.

Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalahpahaman
kecil yang entah
kenapa selau saja nampak besar. Secara ajaib Tuhan
mengatur agar
pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah-wajah jujur
mereka saat
sedang tidur.

Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka
ungkapkan.
Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkap segalanya.
Tanpa kata, tanpa suara dia berkata :"Betapa lelahnya aku
hari ini".
Dan penyebab lelah itu?
Untuk siapa dia berlelah-lelah? Tak lain adalah kita.

Suami yang bekerja keras mencari nafkah, istri yang
bekerja keras
mengurus dan mendidik anak, juga rumah.
Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan
hari-hari suka dan
duka bersama kita.

Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah
terjadi dengan
menatap wajah-wajah mereka. Rasakanlah betapa kebahagiaan
dan keharuan
seketika membuncah jika mengingat itu semua.

Bayangkanlah apa yang akan terjadi
jika esok hari mereka "orang-orang terkasih itu"
tak lagi membuka matanya, untuk selamanya .........

Tidak ada komentar: